WNA Swiss Terjatuh Saat Mendaki Gunung Rinjani, Evakuasi Masih Berlangsung
vikaspota.com – Gunung Rinjani kembali memakan korban. Kali ini, pendaki asal Swiss, Benedikt Marcel (46), dilaporkan terjatuh saat melakukan pendakian menuju Segara Anak. Insiden tersebut terjadi pada Rabu, 16 Juli 2025, sekitar pukul 12.30 WITA.
Marcel mendaki secara legal melalui jalur resmi Sembalun. Saat insiden terjadi, ia sedang menuju area danau Segara Anak yang terkenal curam. Meski sempat dilaporkan jatuh, Marcel dinyatakan selamat. Namun, ia mengalami luka yang memerlukan penanganan darurat.
Proses evakuasi oleh tim gabungan, termasuk Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Basarnas, saat ini masih berlangsung. Evakuasi dilakukan secara manual menggunakan tandu karena kondisi medan yang terjal.
“Baca juga: Takers Film 2010 Yang Wajib Di Tonton Kembali“
Proses Evakuasi di Jalur Curam,Gunung Rinjani Tim SAR Bergerak Cepat
Menurut keterangan petugas TNGR, lokasi jatuhnya Marcel berada di jalur yang cukup ekstrem dan memerlukan kehati-hatian tinggi. Tim SAR gabungan telah dikerahkan sejak laporan diterima.
“Proses evakuasi terhadap korban sampai saat ini masih berlangsung dengan menggunakan tandu,” ujar salah satu anggota tim. Evakuasi diperkirakan memakan waktu berjam-jam karena kondisi jalur yang menantang.
Balai TNGR menegaskan bahwa Marcel telah mematuhi prosedur pendakian, termasuk registrasi dan izin masuk. Hal ini menjadi penting karena banyak pendaki sebelumnya memasuki kawasan tanpa izin resmi.
Gunung Rinjani memang menjadi destinasi favorit para pendaki internasional. Namun, medannya yang curam memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi.
Insiden Ini Tambah Daftar Kecelakaan Pendaki Asing di Rinjani
Kasus Benedikt Marcel menambah daftar panjang kecelakaan yang terjadi di Gunung Rinjani, terutama yang menimpa pendaki asing. Sebelumnya, Juliana Marins, pendaki asal Brasil, tewas setelah terjatuh saat mendaki pada 21 Juni 2025. Jenazahnya baru berhasil dievakuasi lima hari kemudian.
Data dari Balai TNGR mencatat, dalam dua tahun terakhir, kecelakaan di jalur pendakian Rinjani cenderung meningkat. Penyebab utamanya adalah kelalaian, kondisi cuaca buruk, dan minimnya kesiapan fisik.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi para pendaki, baik lokal maupun mancanegara, untuk memperhatikan keselamatan, mengikuti jalur resmi, serta selalu mendaki bersama pemandu berpengalaman.
Pihak TNGR berkomitmen memperkuat edukasi dan pengawasan agar keselamatan pendaki tetap terjamin. Pendakian Gunung Rinjani menawarkan keindahan luar biasa, namun tetap menyimpan risiko tinggi jika tidak dilakukan dengan persiapan matang.
Kecelakaan WNA di Rinjani Picu Sorotan Global soal Keamanan Pendakian
Gunung Rinjani kembali menjadi sorotan internasional setelah serangkaian insiden yang melibatkan pendaki asing terjadi dalam waktu berdekatan. Setelah kasus Benedikt Marcel asal Swiss yang selamat dari kecelakaan pendakian, perhatian kini tertuju pada insiden tragis yang menimpa Juliana Marins, pendaki asal Brasil. Juliana terjatuh saat mendaki pada 21 Juni 2025 dan ditemukan meninggal lima hari kemudian oleh tim SAR gabungan.
Kematian Juliana menuai perhatian luas, khususnya dari warga Brasil. Banyak netizen di negara tersebut mempertanyakan keamanan jalur pendakian Rinjani. Mereka menyoroti minimnya infrastruktur keselamatan, seperti pagar pengaman, papan peringatan bahaya, dan titik evakuasi darurat. Keluhan itu ramai dibicarakan di media sosial dan memicu diskusi soal standar keselamatan bagi wisatawan asing di destinasi alam ekstrem Indonesia.
Tak lama setelah insiden Juliana, seorang WNA asal Malaysia bernama Nazli Bin Awang Ma’had (47) juga dilaporkan terjatuh. Kejadian itu terjadi pada Sabtu, 28 Juni 2025 di sekitar kawasan Segara Anak Puncak Rinjani. Beruntung, Nazli berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup oleh tim evakuasi gabungan yang sigap merespons laporan dari rekan pendaki.
Rangkaian kecelakaan ini mempertegas pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pendakian di Gunung Rinjani. Sebagai salah satu destinasi pendakian populer dunia, Rinjani harus mampu memberikan jaminan keamanan yang setara dengan standar internasional. Pemerintah dan pengelola taman nasional didorong untuk segera memperkuat regulasi, pengawasan, dan fasilitas pendukung agar tragedi serupa tidak kembali terulang, serta untuk menjaga kepercayaan wisatawan mancanegara terhadap pariwisata Indonesia.
“Simak juga: Strategi PDIP Menghadapi Pilkada Serentak 2024“





Leave a Reply