vikaspota.com – Seorang developer berhasil membawa The Legend of Zelda: Ocarina of Time berjalan secara native di iPadOS dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI. Berbeda dari pendekatan yang umum digunakan, proyek ini tidak mengandalkan emulator, melainkan menghasilkan aplikasi ARM64 yang dikompilasi khusus untuk perangkat Apple.
Pencapaian tersebut menunjukkan bagaimana AI mulai memainkan peran yang lebih besar dalam proses pengembangan perangkat lunak. Jika sebelumnya teknologi ini banyak dimanfaatkan untuk mempercepat penulisan kode, kini AI juga membantu proses porting aplikasi ke platform yang berbeda.
“Baca Juga: Steam Machine Hadirkan Dukungan AMD FSR 4.1″
Hasilnya, salah satu game paling berpengaruh dalam sejarah industri video game dapat dijalankan di iPad dengan performa yang jauh melampaui perangkat keras aslinya.
Proyek Memanfaatkan Ship of Harkinian dan AI untuk Proses Porting
Developer yang menggunakan nama Kahris membagikan hasil proyek tersebut melalui media sosial. Dalam pengembangannya, ia memanfaatkan proyek sumber terbuka Ship of Harkinian sebagai fondasi utama.
Untuk mempercepat proses pengembangan, Kahris menggunakan Codex 5.6 Sol guna membantu membangun lapisan kompatibilitas bagi sistem operasi iPadOS. Menurut penjelasannya, sebagian besar kode yang diperlukan dihasilkan dengan bantuan model AI.
Proses tersebut dimungkinkan karena Ocarina of Time telah melalui dekompilasi ke bahasa pemrograman C melalui proyek komunitas. Dengan kode sumber tersebut, game dapat dikompilasi ulang menjadi aplikasi ARM64 yang berjalan secara native di perangkat Apple.
Selain itu, aplikasi memanfaatkan API grafis Metal milik Apple untuk menangani proses rendering. Pendekatan ini memungkinkan perangkat memanfaatkan kemampuan grafis secara langsung tanpa melalui lapisan emulasi.
Performa Native Hadirkan Resolusi Penuh dan 60 FPS
Karena tidak dijalankan menggunakan emulator, performa yang dihasilkan jauh lebih tinggi dibandingkan versi asli Nintendo 64. Ocarina of Time kini dapat berjalan pada resolusi penuh sesuai layar iPad.
Frame rate permainan juga meningkat hingga 60 FPS. Angka tersebut jauh melampaui performa versi orisinal yang berjalan pada resolusi sekitar 240p dengan kecepatan sekitar 20 FPS ketika pertama kali dirilis pada 1998.
Selain peningkatan performa, proyek ini juga menghadirkan dukungan tampilan widescreen. Pengguna tidak lagi terbatas pada rasio layar klasik yang digunakan konsol generasi lama.
Kombinasi resolusi tinggi, frame rate lebih stabil, dan tampilan layar lebar memberikan pengalaman bermain yang lebih modern tanpa mengubah inti permainan yang telah dikenal selama puluhan tahun.
Mendukung Layar Sentuh, Controller, Keyboard, dan Mouse
Port native tersebut tidak hanya meningkatkan performa visual, tetapi juga memperluas pilihan metode pengendalian. Pengguna dapat memainkan Ocarina of Time menggunakan layar sentuh bawaan iPad.
Selain kontrol sentuh, aplikasi juga mendukung controller Bluetooth yang kompatibel dengan iPadOS. Dukungan tersebut memberikan pengalaman bermain yang lebih mendekati konsol modern.
Kahris juga menambahkan kompatibilitas dengan keyboard dan mouse. Fleksibilitas ini memungkinkan pengguna memilih metode kontrol yang paling sesuai dengan preferensi masing-masing.
Developer tersebut telah membagikan build aplikasi beserta panduan instalasinya melalui GitHub. Panduan tersebut ditujukan bagi anggota komunitas yang memiliki salinan game secara legal untuk mencoba proyek tersebut di perangkat mereka.
“Baca Juga: Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Putusan MK”
Proyek Ini Tunjukkan Peran AI dalam Masa Depan Pengembangan Software
Di luar pencapaian teknisnya, proyek ini memperlihatkan perubahan cara pengembang mengerjakan proses porting perangkat lunak. AI mulai dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menghasilkan kode, mempercepat pengembangan, dan membangun lapisan kompatibilitas lintas platform.
Tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan kini berpotensi diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat dengan bantuan model AI. Meski demikian, hasil akhir tetap memerlukan pengujian, penyesuaian, dan pengawasan langsung dari pengembang.
Proyek seperti ini juga menunjukkan bagaimana kolaborasi antara teknologi AI dan proyek sumber terbuka dapat memperluas kemungkinan dalam dunia pengembangan perangkat lunak. Namun, port ini sepenuhnya merupakan karya komunitas dan tidak memiliki hubungan resmi dengan Nintendo.
Keberadaan proyek tersebut juga tidak mengubah status hak cipta game aslinya. Pengembang menganjurkan pengguna hanya mencoba port tersebut apabila memiliki salinan The Legend of Zelda: Ocarina of Time secara sah.
Dengan memanfaatkan AI, dekompilasi sumber terbuka, dan kemampuan perangkat Apple modern, proyek ini menjadi contoh bagaimana teknologi baru dapat membuka cara berbeda dalam melestarikan sekaligus menjalankan game klasik pada platform yang sebelumnya tidak pernah menjadi target resmi pengembangnya.





Leave a Reply