Tangisan Bukan Tanda Anak Cengeng atau Manja
vikaspota.com – Anak yang sering menangis belum tentu cengeng atau manja. Tangisan justru menjadi bentuk komunikasi emosi, terutama bagi anak yang belum mampu mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Saat mengalami kesedihan, frustrasi, atau bahkan cedera ringan, anak akan bereaksi dengan menangis.
Sayangnya, tak sedikit orangtua yang salah kaprah dan langsung menilai anak sebagai manja. Padahal, menangis adalah respons alami saat anak menghadapi hal yang tidak sesuai harapan atau terasa menyakitkan.
“Baca Juga : Intel Terpuruk, Bill Gates Ragukan Peluang Kebangkitan”
Secara Psikologis, Anak Masih Belajar Mengatur Emosi
Menurut dr. Aisya Fikritama, Dokter Spesialis Anak, anak-anak masih dalam tahap perkembangan otak. Bagian otak bernama prefrontal cortex yang berfungsi mengatur emosi dan perilaku belum matang sepenuhnya.
Karena itu, anak belum memiliki kendali penuh terhadap cara mengekspresikan perasaan. Menangis menjadi salah satu saluran emosi yang paling mudah bagi mereka. Ini adalah tanda bahwa anak membutuhkan pendampingan, bukan teguran.
Cara Orangtua Merespons Tangisan Anak dengan Bijak
Ketika anak menangis, peran orangtua sangat penting sebagai pendamping emosional. Alih-alih menyuruh anak diam dengan kalimat seperti “Udah diam” atau “Masa gitu aja nangis?”, orangtua dianjurkan untuk mendengarkan dan memahami perasaan anak.
Tunjukkan empati, beri pelukan jika perlu, dan bantu anak menamai emosinya. Dengan begitu, anak belajar bahwa menangis bukan hal yang salah, melainkan bagian dari mengenal dan mengelola emosi.
Dampak Positif Saat Orangtua Menghargai Perasaan Anak
Ucapan orangtua seperti “udah diam” atau “masa gitu aja nangis” bisa berdampak buruk bagi perkembangan emosional anak. Jika terus diulang, anak bisa merasa takut untuk mengekspresikan perasaannya. Akibatnya, rasa percaya diri anak menurun dan ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tertutup secara emosional.
Sebaliknya, membimbing anak dengan validasi emosi akan memberikan pengaruh positif jangka panjang. Validasi emosi adalah bentuk penerimaan atas perasaan yang sedang anak alami, tanpa menghakimi atau meremehkannya.
Contoh kalimat sederhana yang bisa digunakan adalah, “Gapapa kok kamu marah” atau “Kamu lagi sedih ya? Cerita yuk, papa/mama dengerin.” Kalimat seperti ini membuat anak merasa aman, diterima, dan dihargai.
Ketika anak merasa dimengerti, ia akan lebih mudah belajar mengenali dan mengelola emosinya. Ini juga melatih kemampuan anak untuk menyelesaikan konflik secara sehat dan membangun empati terhadap orang lain.
Dengan pola asuh seperti ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tidak mudah marah, dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan baik. Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk menjadi pendamping emosi, bukan hanya pemberi instruksi.
Menghargai perasaan anak sejak dini bukan hanya membantu mereka di masa sekarang, tapi juga membentuk karakter mereka di masa depan.





Leave a Reply