IHSG Dibuka Menguat ke 7.816 Pada Awal Perdagangan
vikaspota.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menghijau pada perdagangan Selasa, 2 September 2025. IHSG naik ke level 7.816 atau menguat 1,04% pada menit pertama perdagangan. Kenaikan ini menandakan sentimen positif investor setelah pekan sebelumnya indeks sempat tertekan.
Sebanyak 399 saham bergerak naik, sementara 69 turun, dan 488 stagnan. Nilai transaksi awal mencapai Rp607,7 miliar dengan volume 1,34 miliar lembar saham. Data ini menunjukkan likuiditas bursa tetap terjaga di awal sesi.
“Simak juga: Korupsi Tower BTS Kominfo Divonis 5 Tahun Penjara, Ancaman Penyitaan Porsche dan Lexus”
Sektor Energi Dan Bahan Baku Pimpin Kenaikan
Seluruh indeks sektoral kompak menguat, termasuk LQ45, JII, IDX30, dan MNC36, meski kenaikannya masih di bawah 1%. Sektor energi, bahan baku, transportasi, dan infrastruktur mencatat pertumbuhan tertinggi, masing-masing menembus di atas 1%.
Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan global yang stabil, terutama di sektor komoditas dan energi. Dukungan harga minyak dunia yang bertahan tinggi juga memperkuat kinerja emiten energi.
Saham Top Gainers Menguat Tajam
Beberapa saham mencuri perhatian karena kenaikan signifikan di awal sesi.
Kinerja positif saham-saham tersebut mendorong IHSG semakin stabil di zona hijau. Jika tren ini berlanjut hingga penutupan, maka IHSG berpotensi menutup hari dengan penguatan. Namun, analis mengingatkan investor tetap mewaspadai volatilitas eksternal seperti pergerakan rupiah dan sentimen global.
Tiga Saham Top Losers Tekan IHSG Meski Dibuka Menguat
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa, 2 September 2025, sejumlah saham justru mengalami tekanan. Tiga emiten tercatat sebagai top losers karena penurunan harga cukup signifikan di menit awal perdagangan.
PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI) memimpin pelemahan dengan turun 7,56% ke Rp550 per saham. Diikuti PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) yang melemah 5,14% ke Rp1.660. Sementara PT Cashlez Worldwide Tbk (CASH) harus terkoreksi 4,81% ke Rp99. Koreksi ini menandakan adanya aksi ambil untung setelah reli sebelumnya serta tekanan dari faktor sektoral.
Analis pasar modal menilai pergerakan saham-saham tersebut lebih dipengaruhi oleh dinamika internal perusahaan dan kondisi sektor terkait. Misalnya, saham MAPB cenderung sensitif terhadap tren konsumsi domestik, sedangkan CASH terpengaruh kinerja fintech yang ketat persaingannya. “Pelemahan beberapa saham ini masih wajar di tengah euforia penguatan indeks,” ujar seorang analis dari sekuritas lokal.
Secara keseluruhan, tekanan di beberapa saham belum mampu membalikkan arah IHSG yang tetap berada di zona hijau. Namun, investor diingatkan untuk mencermati faktor eksternal, termasuk nilai tukar rupiah dan perkembangan ekonomi global. Dengan kondisi pasar yang dinamis, strategi diversifikasi portofolio disarankan agar risiko investasi tetap terkendali.
“Baca juga: Kasus HAM Berat Tak Pernah Berakhir Tanggung Jawab Rezim Berikutnya”





Leave a Reply