vikaspota.com – Brasil pada Rabu, 11 Februari 2026, memerintahkan platform X menghentikan praktik tertentu pada chatbot Grok. Perintah itu menyasar pembuatan gambar dengan konten seksual eksplisit. Langkah ini menambah daftar negara yang menekan perusahaan milik Elon Musk.
“Baca Juga: Brasil Soroti Grok, Opsi Pemblokiran Menguat”
Keputusan tersebut diumumkan otoritas Brasil setelah evaluasi internal. Pemerintah menilai terdapat risiko serius terhadap perlindungan anak dan privasi individu. Instruksi itu mewajibkan tindakan korektif segera.
Tekanan terhadap X meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah negara menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan. Grok menjadi sorotan karena kemampuannya menghasilkan gambar manipulatif.
Otoritas Brasil Beri Tenggat Lima Hari kepada X
Perintah tersebut disampaikan oleh Jaksa Agung Brasil bersama Badan Perlindungan Data Nasional dan Biro Hak Konsumen Nasional. Ketiga lembaga itu meminta X segera menerapkan langkah pencegahan. Fokusnya adalah mencegah produksi konten seksual anak dan dewasa tanpa persetujuan.
Otoritas memberi tenggat waktu lima hari kepada X. Jika tidak dipatuhi, perusahaan dapat menghadapi tindakan hukum dan denda. Pernyataan itu dilaporkan kantor berita internasional AFP.
Menurut pemerintah Brasil, X sebelumnya telah menghapus ribuan unggahan. Ratusan akun juga disebut telah ditangguhkan. Namun evaluasi lanjutan menemukan celah tetap ada.
Pengguna Grok masih dapat menghasilkan gambar deepfake bernuansa seksual. Temuan tersebut menjadi dasar perintah baru. Otoritas juga mengkritik kurangnya transparansi dalam respons perusahaan.
Tekanan Internasional dan Pemblokiran di Indonesia
Kasus ini bukan yang pertama di tingkat global. Indonesia sebelumnya menjadi negara pertama yang sepenuhnya memblokir Grok. Kebijakan itu diberlakukan bulan lalu setelah muncul kekhawatiran serupa.
Inggris dan Prancis juga menyatakan akan terus menekan perusahaan. Kedua negara menyoroti munculnya foto cabul perempuan dan anak-anak. Pemerintah setempat meminta pengawasan lebih ketat terhadap fitur AI.
Langkah Brasil memperkuat tren regulasi internasional terhadap AI generatif. Pemerintah berbagai negara menilai perlindungan anak sebagai prioritas utama. Regulasi dianggap perlu mengikuti perkembangan teknologi cepat.
Spicy Mode dan Kekhawatiran Deepfake Seksual
Kontroversi memuncak setelah muncul fitur bernama “Spicy Mode.” Fitur tersebut memungkinkan pembuatan deepfake bernuansa seksual. Pengguna cukup memberikan perintah teks sederhana.
Contoh perintah yang disebut dalam laporan termasuk manipulasi pakaian subjek. Praktik ini dinilai berpotensi melanggar hukum di banyak negara. Risiko penyalahgunaan meningkat ketika subjeknya adalah anak-anak.
X sebelumnya mengumumkan langkah pencegahan pada 15 Januari. Perusahaan menyatakan akan membatasi kemampuan Grok menelanjangi gambar orang sungguhan. Namun belum jelas wilayah penerapan kebijakan tersebut.
Otoritas Brasil menyebut masih ditemukan celah teknis. Mereka menilai respons perusahaan belum memadai. Kritik utama diarahkan pada kurangnya kejelasan kebijakan implementasi.
“Baca Juga: Xiaomi Rilis Xiaomi Tag, Smart Tracker Terjangkau”
Data CCDH dan Tantangan Regulasi AI Global
Menurut Pusat Penanggulangan Kebencian Digital, Grok menghasilkan sekitar tiga juta gambar seksual dalam beberapa hari. Data itu mencakup perempuan dan anak-anak sebagai subjek. Angka tersebut memperkuat kekhawatiran regulator.
Pakar kebijakan digital menilai pengawasan AI harus ditingkatkan. Teknologi generatif memiliki manfaat luas, tetapi juga risiko tinggi. Regulasi perlu memastikan perlindungan hak privasi dan keamanan anak.
Brasil kini menunggu respons resmi dari X dalam tenggat waktu yang ditetapkan. Jika langkah korektif tidak memadai, proses hukum dapat berlanjut. Kasus ini mencerminkan tantangan global dalam mengatur kecerdasan buatan secara efektif dan bertanggung jawab.





Leave a Reply