vikaspota.com – Rusia secara resmi mengerahkan sistem rudal Oreshnik berkemampuan nuklir ke wilayah Belarus. Konfirmasi tersebut disampaikan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko pada Kamis, 19 Desember 2025. Ia menyebut rudal balistik jarak menengah itu tiba sehari sebelumnya dan langsung memasuki status tugas tempur. Pernyataan ini memperkuat sinyal eskalasi keamanan di Eropa Timur. Langkah tersebut terjadi ketika perang Ukraina belum menemukan jalan damai. Situasi geopolitik kawasan pun semakin sensitif.
“Baca Juga: Hujan Salju di Arab Saudi Selimuti Gurun dengan Es”
Pernyataan Putin dan Status Operasional Oreshnik
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan Oreshnik akan resmi bertugas pada akhir 2025. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pertemuan dengan perwira militer senior Rusia. Putin tidak merinci jumlah rudal maupun lokasi detail penempatannya. Lukashenko juga tidak membuka jumlah unit yang dikerahkan. Namun, ia menegaskan bahwa sistem tersebut telah aktif. Oreshnik diklasifikasikan sebagai rudal balistik jarak menengah. Jangkauannya diperkirakan antara 500 hingga 5.500 kilometer.
Kapabilitas Teknis dan Ancaman Strategis
Putin menyebut Oreshnik memiliki beberapa hulu ledak yang melaju hingga kecepatan Mach 10. Ia mengklaim sistem ini tidak dapat dicegat pertahanan udara modern. Rusia pertama kali menguji versi konvensional Oreshnik pada November 2024. Serangan tersebut menargetkan fasilitas industri di Ukraina. Media pemerintah Rusia menyatakan rudal itu mampu mencapai Polandia dalam 11 menit. Markas NATO di Brussels diklaim dapat dijangkau dalam 17 menit. Tidak ada cara membedakan hulu ledak nuklir atau konvensional sebelum dampak.
Belarus dalam Payung Nuklir Rusia
Belarus kembali menjadi elemen penting strategi militer Moskow. Negara itu sebelumnya sudah menampung senjata nuklir taktis Rusia. Lukashenko menyebut Belarus memiliki beberapa lusin senjata nuklir taktis tersebut. Doktrin nuklir Rusia yang direvisi pada 2024 secara eksplisit memasukkan Belarus. Doktrin itu menyatakan serangan konvensional yang didukung kekuatan nuklir dianggap serangan bersama. Kebijakan ini menurunkan ambang penggunaan senjata nuklir Rusia. Barat menilai langkah tersebut meningkatkan risiko salah kalkulasi strategis.
“Baca Juga: Nintendo Tutup Sengketa 15 Tahun Wii Remote dengan Kemenangan Hukum”
Dampak Politik dan Arah Ke Depan
Pengerahan Oreshnik berlangsung di tengah kebuntuan diplomasi Ukraina. Putin memperingatkan Rusia akan memperluas operasi militernya jika tuntutan diabaikan. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump berupaya mendorong perundingan damai. Namun, tuntutan Moskow dan Kyiv masih bertolak belakang. Belarus sendiri menghadapi tekanan internasional berkepanjangan. Lukashenko telah memimpin negara itu lebih dari tiga dekade. Pemerintahannya kerap disanksi karena pelanggaran hak asasi manusia.
Menariknya, Lukashenko juga mencoba menyeimbangkan hubungan dengan Washington. Pada Desember 2025, ia membebaskan 123 tahanan politik. Salah satunya adalah peraih Nobel Perdamaian Ales Bialiatski. Langkah itu dikaitkan dengan pencabutan sanksi AS terhadap industri kalium Belarus. Ke depan, penempatan Oreshnik berpotensi mengubah kalkulasi keamanan Eropa. Negara NATO diperkirakan meningkatkan kewaspadaan militer. Sementara itu, masa depan stabilitas kawasan sangat bergantung pada jalur diplomasi yang rapuh.





Leave a Reply